Pages

Saturday, July 30, 2011

Nostalgia toko gambar

Assalamu’alaikum..
Bingung apa yang ingin saya post, jadi hanya ini yang bisa aku ceritakan (jadi saya atau aku?).

Lagi-lagi aku membuka file-file lama dengan niat untuk membereskannya. Lalu aku sampai di folder “photoshop” dan melihat isinya. Tertawa sendiri. Ternyata ada beberapa gambar berformat pdf yang aku buat dulu. Foto-fotonya rata-rata tentang pernikahan, karena ceritanya aku lagi nyoba bikin album pernikahan dengan meniru konsep album pernikahan yang ada di rumah. Lalu aku teringat bahwa aku punya gambar-gambar itu dalam format jpeg. Aku mencari-cari dan ternyata juga menemukan hasil editan lain yang kubuat sejak sma.


Ini beberapa hasilnya…




Hasil editan pertama! Hehe, masih keliatan jelas gambarnya ditempel-tempel.










dibikin jaman sma










Ini waktu disuruh bikin cover majalah apa saja (bwt nilai tugas)










Ini leaflet tampak luar dengan 3 lipatan
Tugas seni rupa tentang iklan
Kelompok kami ambil tema wedding dan saya kebagian bikin leaflet













Ini leaflet tampak dalam dengan 3 lipatan







Kira-kira saat liburan lulus sekolah



Untuk yang foto album nikah aku rasa tidak perlu ditampilkan, karena objek orangnya masih ada hubungan saudara. Jadi kurasa ini saja. Lalu apa intinya?


Lagi-lagi tentang proses belajar. Dunia semakin canggih dan kita harus berusaha mengimbangi diri untuk beradaptasi. Suka tidak suka, mau  tidak mau dengan kehidupan serba teknologi, kita harus bisa menyesuaikan, dengan mempelajari dan menerapkannya. Seperti gambar-gambar di atas, awalnya aku tidak suka dengan photoshop (aku menyebutnya toko gambar), namun sekolah memaksa aku mempelajarinya. Mau tidak mau aku harus belajar jika ingin mendapat nilai. Belajar secara otodidak. Mulai dari mengenal menu dan ikon-ikonnya, mengedit foto sendiri, Bapak, Ibu, Adik; lalu ke objek benda yang ada di internet dan seterusnya. Lambat-laun aku mengerti caranya dan terlihat lebih baik hasilnya. Meskipun hasil yang lebih baik itu masih tergolong amatir, setidaknya tidak lebih amatir saat pertama kali mebuat.


Setelah kupikir-pikir, ada gunanya belajar toko gambar (kegunaan secara sederhana). Mebuat pas-foto. Banyak orang berduyun-duyun ke studio foto untuk membuat pas-foto ukuran 3x4, 4x6, dsb; untuk keperluan KTP, lamaran kerja, lampiran formulir, daftar ulang sekolah atau kuliah, dll. Jika kita bisa mengerti tentang toko gambar, kita bisa membuatnya sendiri. Aku hanya perlu meminta adik mengambil fotoku dengan pose foto KTP dan kain lebar di tempel di dinding sebagai background. Lalu memindahkannya ke komputer dan mengeditnya sendiri. Sesuka hatiku untuk mengatur ukuran, warna, tingkat kontras, gelap terang wajah (hehe), hilangkan noda di wajah (hehe lagi), dan seterusnya. Lalu tinggal dicetak. Setidaknya aku bisa memasukkan kembali uang untuk foto di studio ke kantong sendiri. Bahkan di rumah kami melayani jasa untuk bikin pas-foto untuk tetangga sekitar, dengan harga yang lumayan dan kami berikan CD berisi kopian fotonya sehingga dia tidak perlu jepret foto lagi jika fotonya habis, hanya perlu mencetaknya. Kau pun juga bisa.


Jadi mari kita belajar!!! Belajar apa? Teknologi. Teknologi yang mana? Yang mana saja, asalkan bermanfaat dan tidak merugikan orang lain serta dapat menunjang diri kita untuk menyesuaikan dengan kehidupan.

Mari belajar!!!


2 comments:

  1. Lutfi, bagus, tapi kok aku pengen ketawa yah.. kamu sih yang bikin... haha *gak ada hubungannya
    :p

    ReplyDelete
  2. krik krik, I know what you mean, ti.
    penampilan luar ga sama kyk dalam kan?
    it's OK ;)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...