Pages

Wednesday, January 25, 2012

9 power girls of Epidemiology


Assalamu’alaikum...

Hingga Rabu pagi ini aku masih senyum-senyum sendiri. Senangnya itu lho susah ditahan. Ibuku lah yang jadi korban pendengar celotehanku. Meski dia sedang serius nonton drama di DAAI TV, tapi dia berusaha konsen menjadi pendengar yang baik.

Bagaimana tidak senang, Selasa kemarin adalah hari yang aku dan teman-teman tunggu sejak hampir 3 bulan yang lalu. Pengumuman itu akhirnya tiba. Pengumuman yang akan menentukan nasib kami setidaknya untuk 5 semester ke depan.

Maret nanti kami akan di semester 4 yang mana peminatan sudah dibuka. Alhamdulillah, di angkatan kami, tujuh peminatan sudah bisa dibuka. Namun, hanya  empat peminatan yang bisa dibuka terkait jumlah angkatan kami yang sedikit, sekitar 80 orang. Jadi sistemnya buka tutup seperti tahun lalu. Tujuh peminatan itu, yaitu K3, Kesehatan Lingkungan, Manajemen Pelayanan Kesehatan, Gizi, Epidemiologi, Promosi Kesehatan, dan Biostatistik.

November lalu sudah dibuka Open House peminatan Kesehatan Masyarakat. Masing-masing dosen penanggungjawab peminatan mempresentasikan tentang masing-masing peminatan. Lalu kami dibagikan formulir untuk memilih 3 peminatan dengan prioritas utama dari 1 sampai 3. Di lembar itu juga disertakan nilai-nilai mata kuliah atau UAN sebagai penunjang peminatan yang kita pilih, meskipun pertimbangan utamanya adalah prioritas utama, niat dan alasan kita memilih peminatan itu.

Dan saat itulah perjuangan kami dimulai...

Kami, 9 orang, yaitu aku, najah, ati, rizka, zata, wiwid, ii, karlina dan ana berjuang agar peminatan Epidemiologi dapat dibuka (berasa kayak 9 power girls, hehe). Sebenarnya tidak ada hal khusus yang kami lakukan. Kami hanya perlu memilih Epidemiologi sebagai pilihan pertama di lembar formulir, tapi itu artinya kami mengorbankan nasib kami jika Epid tidak dibuka. Ini karena Epid sebelumnya belum pernah dibuka dan jumlah minimal kelas peminatan dibuka adalah 15 orang. Jadi ada kemungkinan kami dilempar ke peminatan lain. Huaa..

Selama 2 minggu batas pengumpulan formulir itu, kami berusaha memprovokasi teman-teman yang lain agar memilih Epid, meskipun tidak menjadi pilihan pertama. Setidaknya jika dari mereka ada yang terlempar, mereka akan masuk Epid sebagai pilihan alternatif kedua atau ketiga sehingga kuota Epid bisa mencapai hampir 15 orang.

Tapi tidak mudah untuk membujuk rayu mereka. Masing-masing memiliki pandangan sendiri untuk masa depannya. Kemana mereka melangkahkan kaki untuk masa depan, hanya mereka yang dapat memutuskan. Jadi meskipun kami berusaha keras membujuknya, keputusan ada di mereka. Karena kita sudah dewasa (wuii.. aku d.e.w.a.s.a).


Ya Allah, Engkau Yang Maha Berkehendak.
Engkau lebih mengetahui apa yang kubutuhkan dibanding apa yang kuinginkan.
Jika Engkau meridhoi pilihanku, mudahkanlah.
Jika Engkau berkehendak lain, ikhlaskanlah hati ini menerimanya..

Lalu formulir anak-anak itu dikumpulkan. Kami bersembilan sengaja mengisinya bareng-bareng pada hari H agar tidak ada yang berkhianat dan mengganti pilihan yang lain (pengalaman kakak kelas dulu, hehe). Kami perlu menunggu hingga ada yang dipanggil untuk sesi wawancara. Mungkin tujuannya untuk mengarahkan dan meyakinkan atas peminatan yang kita pilih. Akhirnya daftar anak-anak yang akan diwawancara telah dipampang di mading. Lumayan banyak, hampir 20 orang. Tapi tidak ada satu pun dari kami yang memilih Epidemiologi untuk diwawancara. Padahal awalnya mengira kami lah yang akan dipanggil untuk diarahkan memilih peminatan yang tahun sebelumnya sudah dibuka (wah.. negative thingking ^^v).

Tapi ada yang berubah. Wawancara dibatalkan. Lalu terdengar kabar bahwa akan ada pemilihan ulang peminatan. Muncullah berbagai alasan adanya pemilihan ulang. Mulai dari alasan kami ngawur dalam memilih peminatan, penggunaan prioritas pilihan yang tiga-tiganya sama hanya satu peminatan, peminatan Gizi yang tidak boleh ditutup, dsb.

Memang sih untuk Gizi hanya sedikit yang milih dibanding jumlah Epid. Flashback ke dua minggu batas pengumpulan formulir, kami sekelas musyawarah tentang pilihan peminatan. Hasilnya ditulis di papan tulis. Untuk pilihan pertama, paling banyak yang memilih K3, yaitu sekitar 33 orang dari 80 orang. Lalu kesehatan lingkungan (keslling), dan MPK yang saingan banyaknya. Lalu tersisa Epid dan Gizi yang bedanya tipis. Epid ada 9 orang dan gizi ada 6 orang. Itu artinya Epid memiliki kesempatan yang lebih besar untuk dibuka dibanding Gizi. Akhirnya mereka yang Gizi berpindah haluan ke peminatan2 lain, kecuali Epid (banyak yang anti epid, huhu). Yang kutahu hanya 2 orang yang tetap memilih Gizi sebagai pilihan pertama.

Lalu permasalahannya adalah (ini kata temen) peminatan K3 dan Gizi tidak boleh ditutup karena itu adalah peminatan tertua sejak Kesmas berdiri (tahun di atasku sudah dibuka K3, Kesling, Gizi dan MPK). Jadi jika ingin ditutup, haruslah Kesling atau MPK sebagai peminatan yang termuda. Walah, tambah ribet ini.

Lagi-lagi aku hanya bisa berdoa dan pasrah. Kami bersembilan sepakat untuk tetap memilih Epid. Dukungan dari teman-teman dan dosen Epid juga sudah cukup untuk meyakinkan kami berjuang demi Epid (kok lama-lama berasa kayak mau ke medan perang ^^”).

Akhirnya dilakukanlah Open House ulang. Itu memakan waktu satu hari full dari pagi sampai sore. Presentasi peminatan kali ini lebih lama. Pada saat itulah sekretaris prodi kesmas menjelaskan adanya pemilihan ulang peminatan. Dia bilang bahwa alasan kami memilih peminatan ngawur, nggak realistis dan terkesan lebay, seperti “Alasan saya memilih peminatan ini adalah karena hati dan pikiran saya hanya ada peminatan ini.” Hihi.. lucu. Lalu kebanyakan dari kami menggunakan 3 pilihan hanya untuk 1 peminatan. Padahal tujuan adanya 3 itu agar kami punya alternatif jika kami dilempar (maksimal kuota satu peminatan adalah 20 orang).

Langsung saja hati ini ciut mendengar penjelasan beliau. Karena seolah-olah yang dikatakannya adalah hanya untukku. Bagaimana tidak, di formulir pilihan pertamaku adalah Epid dengan alasan “Karena saya senang dengan Epid. Hati saya cocoknya sama Epid. Orang tua merestui saya memilih Epid. Saya sudah sholat istikharah dan makin mantep dengan Epid. Dan bla..bla..bla”. Begitu pun dengan pilihan kedua. Aku memilih Epid dengan alasan “Karena sekali Epid tetap Epid dan bla..bla..bla”. Lalu pilihan ketiga aku tetap memilih Epid dengan alasan “Saya nggak tahu mau pilih apalagi selain Epid dan bla..bla..bla”. memang sih terkesan lebay. Tapi ini maksudnya adalah bahwa aku serius dengan Epid dan berharap kelas Epid bisa dibuka.

Lalu kami diberi waktu untuk mengembalikan formulir besoknya. Tapi kali ini berbeda. Peminatan yang dibuka ada lima. Bisa dibilang angkatan kami adalah angkatan yang bandel dan pertama kalinya ada pemilihan peminatan ulang. (horee..prok prok prok :D). Mungkin dibuka lima agar Gizi tetap dibuka. Entahlah..

Besoknya formulir dikumpulkan. Aku memilih Epid, Kesling dan Promkes. Muncullah hal yang baru lagi. Banyak anak-anak yang memilih Promkes (Promosi Kesehatan) sebagai pilihan alternatif kedua atau ketiga. Di sisi lain, sepertinya anak-anak tidak memilih Gizi sebagai pilihan alternatif. Waah.. makin seruuu..

Selang seminggu, artinya Selasa kemarin, pengumuman itu tiba. Lima peminatan sudah dibuka, yaituuu..

Jeng jeeeengg...

Jeng jeeeeeeengg...

Jeng jeeeeeeeeengg... (kelamaan jeng jeeng ^^”)

K3, Kesling, MPK, Epidemiologi, dan Promkes !!!

Horeeeee...

Alhamdulillah Ya Allah, Engkau mengabulkan doaku. Kini aku dan 8 orang temanku masuk Epid. Ditambah 6 orang yang terlempar ke Epid. Senangnya. Sampai pengen nangis, hiks :’)

Subhanallah, bener-bener nggak nyangka. Usaha kami untuk mempertahankan Epid membuahkan hasil. Kalau udah gini, jadi inget tentang ayat ini:

...Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaanyang ada pada diri mereka sendiri... (Ar-Ra’d: 11)

Memang, perjuangan itu kalau berjuang sampai akhir, insya allah hasilnya manis :)

Niat kami tulus. Perjuangan kami ikhlas. Doa kami selalu teriring agar Allah meridhoi dan memudahkan jalan yang kami pilih untuk menggapai masa depan cerah yang sudah menunggu kami.. ahli Epidemiologi. Insya Allah. Aamiin.

Tapi satu hal yang pasti. Apapun peminatan yang kami pilih, gelarnya tetap SKM (Sarjana Kesehatan Masyarakat). Insya Allah :’)



Nb: Terima kasih untuk Ibu yang selalu sabar mendengar keluh kesahku karena peminatan ini. Ketika aku senang, kau juga senang. Ketika aku sedih, kau juga sedih. Ketika aku putus asa, kau pun juga.  Kau selalu ada di tempatku berdiri. You’re my lovely Mom :)

Saturday, January 21, 2012

Riwayat alamiah penyakit


RIWAYAT ALAMIAH PENYAKIT

Definisi RAP
RAP adalah deskripsi tentang perkembangan alamiah, tanpa campur tangan medis dari suatu penyakit pada individu (host) mulai dari awal  terpapar suatu agent patogen  sampai akhir  proses penyakit, penyembuhan atau meninggal.

Tahap-tahap RAP
Riwayat alamiah suatu penyakit pada umumnya melalui tahap-tahap sebagai berikut (M.N Bustan,2006):
  1. Tahap prepatogenesis
Pada tahap ini individu berada dalam keadaannormal/ sehat tetapi mereka pada dasarnya peka terhadap kemungkinan terganggu oleh serangan agen penyakit (stage of susceptibility). Walaupun demikian pada tahap ini sebenarnya telah terjadi interaksi antara penjamu dengan bibit penyakit. Tetapi interaksi ini masih terjadi di luar tubuh, dalam arti bibit penyakit masih ada di luar tubuh penjamu di mana para kuman mengembangkan potensi infektifitas, siap menyerang penjamu.
  1. Tahap patogenesis
-          Tahap inkubasi
Tahap inkubasi merupakan tenggang waktu antara masuknya bibit penyakit ke dalam tubuh yang peka terhadap penyebab penyakit, sampai timbul gejala penyakit. Masa inkubasi ini  bervariasi antara satu penyakit dengan penyakit lainnya.
-          Tahap dini
Tahap ini mulai dengan munculnya gejala penyakit yang kelihatannya ringan. Tahap ini sudah mulai menjadi masalah kesehatan karena sudah ada gangguan patologis, walaupun penyakit masih dalam masa subklinis. Pada tahap ini, diharapkan diagnosis dapat ditegakkan secara dini.
-          Tahap lanjut
Pada tahap ini penyakit bertambah jelas dan mungkin bertambah berat dengan segala kelainan klinik  yang jelas, sehingga diagnosis sudah relatif mudah ditegakkan. Saatnya pula, setelah diagnosis ditegakkan, diperlukan pengobatan yang tepat untuk menghindari akibat lanjut yang kurang baik.
  1. Tahap pasca patogenesis
Tahap pasca patogenesis/ tahap akhir yaitu berakhirnya perjalanan penyakit yang dapat berada dalam pilihan keadaan, yaitu sembuh sempurna, sembuh dengan cacat, karier, penyakit berlangsung secara kronik, atau berakhir dengan kematian.

Rantai Infeksi
Dalam terjadinya penyakit, terdapat suatu rantai infeksi yang menyebabkan penyakit dapat terjadi atau disebut juga pola penyebaran penyakit. Komponen rantai infeksi yaitu agent, reservoir, portal of exit, mode of transmission, portal of entry, dan susceptible host. Reservoir adalah habitat tempat agen infeksius biasa hidp, tumbuh dan memperbanyak diri. Reservoir dapat berupa manusia, hewan, dan lingkungan.
Agen meninggalkan reservoir melalui pintu ke luar (portal of exit), yaitu jalan agen meninggalkan pejamu sumber, biasanya berhubungan dengan agen yang terlokalisasi, contohnya:
-          Sistem respirasi:  TB paru, influenza
-          Urin: Leptospira
-          Feses: Vibrio cholera
-          Lesi kulit: Sarcoptes scabiei
-          Jalur kulit (perkutaneus): isapan darah artropoda (malaria, DBD)
Lalu agen ditransmisikan dengan model tertentu agar dapat masuk ke pejamu melalui pintu masuk (portal of entry), sehingga menginfeksi pejamu yang rentan. Mode transmisi dapat berupa:
-          Transmisi langsung
Yaitu transfer agen segera dari reservoir ke pejamu yang rentan dengan cara:
·         Kontak langsung, contoh: gonore
·         Penyebaran droplet, contoh: bersin, batuk, bicara
-          Transmisi tidak langsung
·         Airborne (udara): debu, droplet nuclei (droplet yang dikeringkan), cont: TB paru
·         Vechicleborne: melaui agen yang masuk ke dalam makanan, air, darah
·         Vectorborne: agen yang mengalami atau tidak mengalami perubahan fisiologik dalam tubuh vektor
Pintu masuk kuman sama dengan pintu keluar, seperti kulit, sistem respirasi, membran mukosa, darah, dsb.  Lalu melalui pintu masuk itu kuman menyerang pejamu yang suseptibel. Suseptibilitas bergantung pada faktor genetik, imunitas yang didapat, kemampuan bertahan terhadap infeksi, membran mukosa, dll.

Konsep Tingkat Pencegahan
Beaglehole (WHO, 1993) membagi upaya pencegahan menjadi 3 bagian : primordial prevention (pencegahan awal) yaitu pada pre patogenesis, primary prevention (pencegahan pertama) yaitu health promotion dan general and specific protection , secondary prevention (pencegahan tingkat kedua) yaitu early diagnosis and prompt treatment dan tertiary prevention (pencegahan tingkat ketiga) yaitu dissability limitation. Untuk lebih lanjut, akam diuraikan sebagai berikut:
  1. Pencegahan Premordial
Jenis pencegahan yang paling akhir diperkenalkan, adanya perkembangan pengetahuan dalam epidemiologi penyakit kardiovaskular dalam hubungannya dengan diet, dll. Pencegahan ini sering terlambat dilakukan terutama di negara-negara berkembang karena sering harus ada keputusan secara nasional.
Tujuan premordial prevention ini adalah untuk menghindari terbentuknya pola hidup sosia-ekonomi dan kultural yang mendorong peningkatan resiko penyakit. Upaya ini terutama sesuai untuk ditujukan kepada masalah penyakit tidak menular yan dewasa ini cenderung menunjukkan peningkatannya.
Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa penegahan awal ini diarahkan kepada mempertahankan kondisi dasar atau status kesehatan masyarakat yang bersifat positif yang dapat mengurangi kemungkinan suatu penyakit atau faktor resiko dapat berkembang atau memberikan efek patologis. Faktor-faktor itu tampaknya bersifat sosial atau berhubungan dengan gaya hidup danpola makan. Upaya awal terhadap tingkat pencegahan primordial ini merupakan upaya mempertahankan kondisi kesehatan yang posotif yang dapat melindingi masyarakat dari gangguan kondisi kesehatannya yang sudah baik.
2.       Pencegahan Primer
Pencegahan primer ini bertujuan untuk mengurangi incidence dengan mengontrol penyebab dan faktor-faktor risiko. Misal : penggunaan kondom dan jarum suntik disposable pada pencegahan infeksi HIV, imunisasi, dll. Biasanya merupakan Population Strategy sehingga secara individual gunanya sangat sedikit : penggunaan seat-belt, program berhenti merokok, dll.
3.        Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk menyembuhkan dan mengurangi akibat yang lebih  serius lewat diagnosis & pengobatan yang dini. Tertuju pada periode diantara timbulnya penyakit dan waktu didiagnosis & usaha ↓ prevalensi. Dilaksanakan pada penyakit dengan periode awal mudah diindentifikasi dan diobati sehingga perkembangan kearah buruk dapat di stop, Perlu metode yang aman & tepat untuk mendeteksi adanya penyakit pada stadium preklinik. Misal : Screening pada kanker cervik, pengukuran tekanan darah secara rutin, dll
4.       Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier bertujuan untuk mengurangi komplikasi penting pada pengobatan & rehabilitasi, membuat penderita cocok dengan situasi yang tak dapat disembuhkan. Misal pada rehabilitasi pasien Poliomyelitis, Stroke, kecelakaan dll.


Referensi:

Anonim, Rantai Infeksi diakses pada tanggal 21 Januari 2012 di http://healtscience.blogspot.com/2011/06/rantai-infeksi.html
Bahan kuliah Pengantar Epidemiologi berjudul Riwayat Alamiah Penyakit oleh dr. Toni, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2011.
Bustan,M.N. 2006. Pengantar Epidemiologi Edisi Revisi. Jakarta: PT Rineka Cipta
Dr. dr. H. Sardjana, SpOG (k), SH dan Hoirun Nisa, M.Kes. 2007. Epidemiologi Penyakit Menular. Jakarta:UIN Press.
Sugeng Juwono Mardihusodo, Riwayat Alamiah, Spektrum, Rantai Infeksi dan Kejadian Epidemik Penyakit
Supayanto, Riwayat Alamiah Penyakit diakses pada tanggal 21 Januari 2012 di http://dr-suparyanto.blogspot.com/2010/06/riwayat-alamiah-penyakit.html



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...