Pages

Monday, May 18, 2015

Ethnic runaway to Baduy Luar #Part 1


Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah, akhirnya ada kesempatan untuk menulis kembali. Seperti yang dijanjikan waktu lalu, saya akan menulis dengan konten yang lebih panjang. Dan kali ini, saya ingin berbagi sepotong cerita atau pengalaman yang saya lalui dalam hidup yang penuh lika liku ini *halah, abaikan

Saat masih sekolah, saya beberapa kali pernah lihat seseorang dengan pakaian hitam dan ikat kepala serta tanpa menggunakan alas kaki. Kata orang-orang sih, mereka itu adalah orang Baduy. Saat kuliah, ada kenalan yang bersama teman-temannya pergi mengunjungi Suku Baduy. Masih saat kuliah juga, saya termasuk penonton setia acara Ethnic Runaway di Trans TV. Karena hal-hal tersebut, sempat dalam hati saya bergumam ingin bisa pergi kesana, melihat secara langsung kehidupan masyarakat Suku Baduy. Namanya juga hanya berupa keinginan dalam gumaman, bagaikan orang yang bilang “iiiih, pengen deh ini, pengen deh itu”, tidak ada niatan untuk mencapainya.

Namun, siapa sangka bahwa tanpa berdoa meminta dan ikhtiar sungguh-sungguh, dengan begitu baiknya Allah mewujudkannya! Saya diberi kesempatan untuk pergi kesana. Masya Allah, sempat speechless waktu itu. Bagaimana tidak?! Selama ini, meskipun beberapa kali saya tidak membuat target pencapaian, berdoa atau berikhtiar untuk mendapatkan sesuatu yang saya inginkan, tapi hanya berupa gumaman, dengan begitu baiknya Allah mewujudkannya. Lalu bagaimana jika saya benar-benar serius beroda, ikhtiar hingga demi terwujudnya itu, saya sengaja membuat target pencapaian dalam selang waktu tertentu, Allah dengan kuasaNya dan kebaikanNya pasti akan mengabulkan. Pantas saja ada yang pernah bilang, “Jika kamu tahu bagaimana Allah mengatur segalan urusan kehidupanmu, tentu hatimu akan meleleh karena cintaNya”

fabiayyi ala irobbikuma tukadziban :’)

Awal mula perginya saya kesana adalah saat awal bulan Februari kemarin, ketika dosen saya, yaitu Ibu Minsarnawati SKM M.Kes, mengajak saya menjadi partner atau tim untuk melakukan penelitian kesehatan yang in syaa Allah akan dibiayai oleh Litbangkes Kemenkes RI. Saya pun menyanggupi dan bersedia bergabung. Padahal, jarak waktu saat beliau menawarkan bergabung dan deadline pengumpulan proposal sangat dekat, kurang dari 1 bulan, meskipun pengumuman “Call for Proposal” sudah ada sejak beberapa waktu sebelumnya. Maka saya ngebut mencari tema penelitian dan mengerjakan proposal. Jujur, sempat hopeless waktu itu karena proposal yang diajukan kali ini mesti penelitian intervensi dan berbasis budaya. Susaaah banget cari lokasi yang sesuai dan terdekat dari domisili yang masih kental unsur budayanya.

Lalu tanpa disangka, beliau menyarankan untuk mengajukan proposal penelitian dengan lokasi sasaran di Suku Baduy! Shock. Speechless. Makin hopeless.

Bagaimana tidak? Melakukan penelitian yang bersifat intervensi pada kelompok masyarakat umum saja masih tergolong sulit. Sedangkan kali ini, beliau menyarankan untuk melakukan intervensi pada masyarakat Suku Baduy, yang notabene aturan-aturan adat masih dijunjung tinggi oleh mereka sehingga belum tentu intervensi yang kita lakukan dapat diterima dengan baik. Namun, beliau terus memberi semangat dan meyakinkan bahwa kami dapat melakukannya.

Singkat cerita, hingga H-3 deadline pengumpulan, proposal kami masih belum matang dan belum pernah dibahas dengan duduk bersama. Selama ini hanya via email. Menjelang malam itulah kami akhirnya berdiskusi, di Masjid Fathullah, membahas konsep final penelitian yang akan diajukan. Sayangnya, yang seharusnya final pun masih belum final karena kurangnya informasi yang kami miliki tentang masyarakat Suku Baduy. Referensi yang dimiliki tidaklah banyak. Sedangkan yang kami butuhkan adalah data-data dan informasi terkini tentang mereka. Kami harus melihat dan menanyakannya secara langsung.

Dan akhirnyaa, keputusan dadakan dibuat bahwa besok pagi kami harus pergi kesana!


Tadaaa~

Our trip’s started ! (kepanjangan yah prolognya di atas :p)


Masyarakat Suku Baduy tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Kami berangkat kesana dengan naik kerete api dari Statiun Pondok Ranji menuju Stasiun Rangkasbitung. Berbeda dengan rute-rute stasiun lainnya yang menggunakan kereta commuterline, untuk menuju Stasiun Rangkasbitung, kami hanya dapat menggunakan kereta lokal ekonomi. Kereta tersebut paling pagi yang tiba di Stasiun Pondok Ranji jam 8.44. Sayangnya kami ketinggalan kereta tersebut. Jadi kami membeli tiket kereta berikutnya yang tiba jam 10.22. Perjalanan ke Rangkasbitung sekitar 2 jam. Tiba di sana, kami dijemput oleh saudara dari Ibu Minsar, yaitu Aida (dia menikah dengan saudara sekampung dari Ibu Minsar). Rencana memang kami akan bermalam di rumah orang tuanya.







Lalu, dari stasiun, kami melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum berwarna merah menuju terminal Aweh. Jaraknya dekat, kurang dari 10 menit. Selanjutnya, kami naik mobil semacam Elf (bener ngga ya tulisannya?) yang menuju Ciboleger. Ciboleger adalah pasar sekaligus letak pintu masuk Desa Kanekes, tempat masyarakat Suku Baduy berada. Hanya saran saja, saat ingin naik mobil ini, sebaiknya tidak mencarinya di dalam terminal, tetapi di seberang luar terminal. Sebab yang di dalam terminal agak lama ngetemnya. Sedangkan yang di luar, meskipun lama juga ngetemnya, tapi ada beberapa orang yang membantu mengumpulkan penumpang sehingga mobil bisa segera berangkat.

Perjalanan dengan mobil Elf inilah yang saya rasa cukup melelahkan dan membuat perut kekocok-kocok. Medan jalan yang berliku-liku, naik turun bukit serta kondisi jalan beraspal yang rusak, membuat perjalanan terasa sangaaat lama. Sekitar 1,5-2 jam. Padahal, lamanya waktu itu hanya ditempuh hingga daerah Simpang, yaitu daerah persimpangan di mana rumah orang tua Aida tinggal. Jarak dari Simpang ke Ciboleger terbilang dekat, sekitar beberapa kilometer lagi. Jika ditempuh dengan sepeda motor, memakan waktu 30-45 menit.

Kami tiba di rumah keluarga Aida sekitar jam 2.30. Kami istirahat, solat, makan dan melanjutkan perjalanan jam 4 kurang. Kami pergi dengan dua motor. Bapak Aida membonceng Aida dan saya membonceng Ibu Minsar. Disinilah insiden berdarah itu terjadi #mencobamendramatisir

Jalan aspal dari Simpang menuju Ciboleger terbilang bagus. Naik motor sambil lihat pemandangan gunung atau bukit berjejer dan berlapis serta menghirup udara yang segeeer banget bebas polusi, rasanya aduhaaaaiiii banget. Layaknya anak motor di kota, yang ngendarain motor sering kenceng-kenceng, di sana saya juga ngendarain motor seperti itu. Padahal saya belum paham medan jalan disana seperti apa. Ketika kami melewati jalanan yang menanjak dan saat tiba di puncak tiba-tiba jalanan berubah menjadi turunan yang mana di ujung bawah sana jalanan berubah jadi bebatuan tanpa aspal, saya tidak punya cukup waktu untuk ngerem secara mulus dan tanpa sadar hanya menggunakan rem tangan. Saat tiba di bebatuan itulah ban motor belakang tergelincir dan kami jatuh ketiban motor ke arah kanan.

Saya ngga kuat ngangkat motor dan Ibu Minsar teriak minta tolong pada Bapak Aida yang sudah ada di depan dan pada orang-orang sekitar yang kebetulan lewat di sana. Saya hanya diam dengan posisi tiduran sambil mencerna apa yang terjadi. Maklum, saya jarang jatuh dari motor. Ini kali ketiga jatuh, kali pertama bonceng dosen dan kali pertama jatuh saat bonceng dosen. Shock banget. Kaca spion pecah dan patah dari gagangnya. Darah dari lulut dosen saya ngerembes tembus ke gamis luarnya. Telapak tangan kanan saya kebas, berdarah dan bengkak, susah ditekuk atau digerakkan.

Segera Bapak Aida menolong dan memegang telapak tangan saya sembari meniup-niupkannya dan bilang, “Ini ggp, ini gpp, nanti pulang diobatin.” Terlihat sekali bahwa beliau itu mengkhawatirkan saya layaknya anak sendiri. Ini karena beliau melihat wajah saya yang pucat seketika. Padahal jika beliau tahu, saat itu puncatnya saya lantaran khawatir memikirkan motor yang saya rusakin dan luka-luka pada Ibu Minsar akibat saya bonceng. Saya beberapa kali meminta maaf pada beliau. Dan jika kalian tahu bagaimana reaksi beliau…
“Seru yaaa. Begini perjuangan jauh-jauh kesini buat ke Baduy, penuh cobaan.”(jawabnya sambil tertawa)

Haduuh, si Ibu. Sampai pengen nangis denger cara beliau menghibur saya :’(

Lepas itu, kami melanjutkan perjalanan. Akhirnya saya dibonceng Bapak Aida dan Ibu Minsar dibonceng Aida. Sepanjang perjalanan tangan kiri saya terus memegang telapak tangan kanan yang tidak bisa digerakkan.

Kami tiba di pasar Ciboleger. Sempat heran saat melihat bahwa ternyata terdapat minimart disana. Sebab sepanjang perjalanan dari Simpang hingga Ciboleger, kami tidak menemukan minimart semacam ini, meskipun di sisi jalan terdapat rumah-rumah penduduk. Ditambah lokasi disini yang tergolong daerah pedalaman, cukup mengherankan ada minimart dengan warna yang cukup nyentrik di antara bangunan lainnya disini.

Kami meninggalkan motor disana dan melanjutkannya dengan berjalan kaki. Pintu masuk ke Baduy berupa tanjakan dan saya harus memapah Ibu Minsar yang jalannya terpincang-pincang karena jatuh tadi. Saat tiba di pintu masuk itulah, saya takjub melihat pemandangan di depan sana. Terdapat deretan rumah-rumah penduduk dari bambu dan tanah berupa batu-batu kali yang tersusun rapi. Terlihat tradisional sekali dan asri. Suka. Suka banget sama suasana ini. Ini mah saya bangeeet :D



Saat sampai disana, lupa difoto. Baru sempat saat mau pulang. Gelap deh hasilnya :D










Bangunan ini bukan rumah, melainkan lumbung padi warga



Disana kami bertemu dengan Kepala Desa Kanekes sekaligus sebagai salah satu dari masyarakat Baduy Luar. Namanya Dainah. Jaro Dainah. Kami juga bertemu dengan tokoh dari Baduy Luar, yaitu Bapak Saija dan Bapak Lupa Namanya. Kami menjelaskan maksud kedatangan kami dan menanyakan segala informasi yang dibutuhkan untuk referensi proposal. Karena saya dan Ibu Minsar memahami masyarakat Baduy sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi adat, maka sempat di awal diskusi, kami terlihat kaku dalam berbicara, khawatir jika apa yang kami sampaikan melukai perasaan mereka dan bertentangan dengan adat, sehingga kami memilah-milah kata yang tepat untuk disampaikan. Namun, karena memilah-milah itu, yang disampaikan jadi kaku dan berasa atmosfer pertemuan tersebut sangat serius dan sedikit tegang.

Hingga akhirnya pada saat Bapak Saija menjelaskan sesuatu dan beliau menyebutkan pupuk yang digunakan disini berasal dari “tai kotok”, saat itulah saya dan Aida tidak bisa menyembunyikan tawa dan akhirnya tertawa terbahak-bahak. Sudah lama saya tidak mendengar atau mengucapkan “tai kotok”. Ketika sekarang mendengar lagi, rasanya lucu, apalagi melihat mimik muka Bapak Saija saat mengucapkannya. Bapak Lupa Namanya menyadari apa yang kami tertawakan dan akhirnya ikut tertawa. Sedangkan Ibu Minsar dan Bapak Saija yang tidak mengetahui apa maksudnya terlihat bingung. Ibu Minsar berpikir bahwa “tai kotok” adalah “kotoran burung”. Saat saya jelaskan bahwa itu adalah kotoran ayam, beliau akhirnya paham dan ikut tertawa. Demikian juga Bapak Saija. Barulah akhirnya suasana menjadi cair :)



Lelaki yang di tengah adalah Bapak Saija. Sedangkan lelaki di ujung kanan adalah Kepala Desa (Jaro Dainah). Wanita yang memakai rok kain adalah Ibu Eneng, salah satu dari kader kesehatan posyandu di kampung Kaduketug



Tidak lama kami berada disana, karena hari juga mulai gelap. Kami berdiskusi sekitar 2 jam dan pulang menjelang magrib. Meski hanya sebentar, ada kepuasan dan kebahagian tersendiri ketika akhirnya bisa melihat apa yang selama ini hanya dibaca dari jurnal-jurnal dan buku-buku yang mengulas kehidupan mereka. Ada perasaan lega ketika akhirnya bisa mengatakan, “Ooh, seperti ini thoo…”

Esok paginya, jam 6 pagi kami sudah siap untuk pulang. Kami mengejar kereta pagi untuk menyelesaikan proposal tersebut saat sudah tiba di Ciputat. Baiknya Allah itu banget-banget. Kami masih bisa naik kerete pagi sebelum jam 8, padahal saat kami baru sampai stasiun, kereta sudah akan berangkat dan terlihat petugas-petugas stasiun sedang membantu penumpang naik. Allah baik banget, sebab jika kami tertinggal kereta ini, maka kami baru bisa naik kereta berikutnya yang baru tiba pukul 11.25 >.<



Anak-anak sekolahnya hebat bener ya? Kalau di Jakarta, naik di atas atap mobil atau gelantungan di pintu, sudah kena tilang  ya. Salut deh perjuangan buat sekolahnya ^^ 



Singkat cerita (lagi), alhamdulillah proposal sudah selesai dan dapat dikirim saat hari H deadline. Jujur, saat itu saya tidak lagi memikirkan dan berharap apakah proposal kami lolos diterima. Sebab, apa yang telah kami lewati untuk menyelesaikan proposal tersebut sudah menjadi pengalaman dan hikmah yang berharga bagi kami. Bahkan jika ingin benar-benar jujur, saya berharap proposal itu tidak lolos karena beberapa pertimbangan pribadi. Tentang ini, dosen saya tidak tahu :p

Ternyata, Allah berkehendak lain. Sebaik-baiknya keinginan kita, tentu Allah lebih tahu yang terbaik atas kebutuhan kita. Proses seleksi yang memakan waktu sekitar 1 bulan lebih akhirnya menghasilkan pengumuman bahwa secara nasional, terdapat 14 proposal penelitian yang lolos seleksi dari sekitar 317 proposal yang masuk. Dan proposal kami salah satu dari ke-14 proposal tersebut!

Masya Allah. Alhamdulillah. Allahu Akbar.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan, fiii?

Ini adalah penelitian pertama saya sejak lulus kuliah Agustus tahun lalu. Ini juga adalah penelitian bersifat intervensi dan berbasis budaya yang pertama bagi saya sejak lahir. Dan ini juga adalah penelitian pertama bagi saya dan Ibu Minsar yang didanai langsung oleh Kementerian Kesehatan RI. Dan ini berarti hingga Desember 2015 nanti, in syaa Allah, kami akan sering mengunjungi masyarakat Baduy.

Maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kamu dustakan, fiii?

Saat kamu hanya memiliki keinginan sepintas berupa gumaman untuk bisa melihat lokasi Suku Baduy, Allah dengan kemurahanNya mewujudkannya. Lalu kini saat kamu bahagia dan bersyukur dapat berkunjung kesana dan merasa puas paling tidak bisa sekali seumur hidup pergi kesana, Allah dengan kebesaranNya memberikanmu jalan untuk datang lagi berkali-kali kesana. Maka bagaimana hatimu tidak meleleh dibuatnyaaaa? :’’’)

Alhamdulillah ya Allah. Terima kasih. Terima kasih :*

Sekian dulu ya, lain waktu dilanjut lagi
:)


Tuesday, February 10, 2015

First posting in 2015

Assalamu'alaikum :)

Well, it's my first posting in 2015.
Yeh, a little bit late.

Banyak yang terjadi sejak postingan saya yang terakhir.
Banyak yang ingin diceritakan di sini.
Namun sekarang belum ada waktu yang dapat disempatkan untuk menulis lagi.
Alhamdulillah, sudah disibukkan dengan kegiatan lain.
Next time akan benar benar-benar full disempatkan in syaa Allah.
Sudah bener-bener rindu untuk curcol di sini, hihi :p

But, mungkin jika berkenan, kalian bisa mengunjungi IG saya di @softnesslight
Masih anget itu, baru bikin, akhirnyaa *pamer udah punya hehe
There are some pieces of a lot of my moments I through.

See ya :)

Wednesday, August 06, 2014

The eruption of a new molar a.k.a wisdom tooth

gigi geraham atas tumbuh disaat sedang ribet-ribetnya nyusun skripsi menjelang sidang itu rasanya... "wow" banget!
bener kata mereka yang udah pernah ngalamin, saat gigi belakang tumbuh (muncul ketika usia 20an) maka dunia ngga terasa indah kayak biasa. *lebay
susah makan. susah buka mulut. susah mingkem. susah nelen ludah. susah nengok. hingga demam. well, itu yang sudah saya rasakan.
btw, adakah yang tahu butuh berapa lama gigi geraham untuk tumbuh sempurna?
*mencoba menikmati rasa sakitnya T.T


Thursday, July 17, 2014

Because He always exists

sometimes we never know what Allah's planning for our good.
even that surprise can present suddenly.
as today.
feeling so happy.
being so grateful.
being more assured that Allah is always there.
although sometimes even just for a second we forgot about His existence.
because Allah knows the best for us.
He knows it better than us.
and finally, this is a power of do'a.
thanks Allah.
Alhamdulillah :)

Skripsweet

Sumber: skripsiteknikinformatika.blogdetik.com



Bismillah..

tetiba ingin ngetik. apapun itu. sembari mengagumi diri sendiri karena bisa ngetik cepat tanpa lihat keyboard. alhamdulillah. suatu skill 'unik' yang patut disyukuri. efek samping lembur laporan magang dan skripsi :)


apa kabar readers (yakin ada yang baca?). alhamdulillah, saya sehat (ada yang nanya?). tapi ruhiyah saya lagi nurun T.T . butuh kumpul dengan temen-temen yang selalu bisa me-charge iman kembali optimal. rindu mereka >.<


saya sedang nyusun skripsi sekarang. alhamdulillah, Allah mudahkan semua proses menjelang seminar proposal (semprop) bulan lalu, mulai dari bimbingan, ngejar tanda tangan persetujuan semprop dari dosbing, sampai hari H presentasi.


ada salah satu hikmah dari proses itu yang bikin saya malu. malu sama Allah. namun itu yang selalu saya ingat sampai sekarang.
"Nid, kamu yakin ga besok lancar sempropnya? proposal kamu udah mateng? kamu udah pelajarin semua materi seputar epid (epidemiologi-red)? Aku kok deg-degan ya." 
"Yaah fi. gimana ya? aku udah berdoa. udah ikhtiar semampunya. tinggal pasrah aja Allah ngasihnya gimana besok."

Jleb! ya ampun fiii. itu kan konsep sederhana. udah sering juga dengernya. kenapa saya bisa lupa? saya udah berdoa, udah ikhtiar semampunya, tinggal pasrah berserah diri Allah ngasihnya gimana. aduuh malunya sama Allah. maaf ya Allah hari itu juga rasa dag-dig-dug hilang.


selama 4 hari kemarin saya lembur pagi siang malam ngerjain pembahasan dari hasil penelitian skripsi. alhamdulillah sudah selesai. tinggal nambel yang bolong kanan kiri aja. alhamdulillah badan ga ambruk. tapi subhanallah, mata ngerengek ngajak tidur. mata panda juga udah tebel hitam di bawah kantong mata.


tapi itulah nikmatnya proses skripsi. bersusah payah buat hasilin karya tulis bikinan sendiri. yang pada bagian kata pengantar nanti tersemat ucapan terima kasih untuk orang tua. sembari memperlihatkan tebalnya laporan skripsi dan berkata "Pak, Bu, ini salah satu hasil jerih payah kuliahin Luthfi 4 tahun. Makasih ya.. luthfi udah sarjana." duuh ga sabar nunggu waktu itu tiba. jadi intinya, nikmati saja prosesnya :)


in syaa Allah saya mau ikut sidang bulan Agustus. biar bisa wisuda bulan November. do'ain ya semoga di acc dosbing buat maju. semoga temen-temen yang lain jg bisa maju, especially for epid. trus wisuda bareng-bareng. aamiin.

Sunday, May 12, 2013

Flake of fears about you two - my beloved parents -




sumber: trainer.web.id



Sudah 4 hari 3 malam ini kami tinggal di rumah hanya berdua – aku dan Ibu. Bapak sedang touring ke Aceh bersama teman-teman kantor. Sedangkan Diyan, jalan-jalan perpisahan kelas ke Malang dan Yogya. Alhasil, rumah jadi sepi. Ditambah lagi, aku yang masih pergi kuliah pagi dan pulang sore. Ibu bener-bener sendiri di rumah.

Suasana yang bener-bener sepi buat kita berdua adalah saat malam datang. Sangaat sepi. Hanya ada suara TV yang sengaja Ibu pindah dari ruang tengah ke kamar tidur sejak Bapak dan Diyan pergi. Belum pernah kami sendirian berdua seperti ini. Suasana yang aneh. Ibu nyeletuk, “Kok sepi banget ya, Pi.” Aku hanya balas dengan senyum.

Karena hal itu, aku mulai berkhayal. Ketika aku dan Diyan sudah menemukan jodoh masing-masing dan membangun rumah tangga sendiri, Bapak dan Ibu akan tinggal berdua – tanpa kami. Suasananya mungkin juga akan seperti ini. Sepi. Mengisi masa tua mereka hanya berdua.

Lalu bagaimana jika salah satu di antara mereka lebih dulu menemui-Nya. Maka akan tinggal sendiri. Mengisi masa tua hanya seorang diri. Dalam satu rumah hanya seorang sendiri. Sepi. Pasti lebih sepi dari ini.

Khayalan itu membuat aku nggak kusyu’ waktu solat. Rasa khawatir itu mulai muncul dan terus membesar hingga sekarang. Aku mulai takut. Aku mulai cengeng. Aku mulai...

Jika masa itu datang dan kami masih dititipkan umur panjang, insya Allah aku dan Diyan tidak akan membiarkan mereka tinggal berdua atau sendirian. Mungkin mereka akan ikut salah satu dari kami. Meski kami sudah tahu jawabannya bahwa mereka akan menolak. Orang tua mana yang ingin menumpang dan menjadi benalu dalam rumah tangga anak-anaknya. Kalau berada di posisi mereka, mungkin jawaban yang akan aku berikan juga sama.

Tapi sebagai seorang anak, rasa belas kasihan itu sangat besar. Terlalu sayang. Terlalu mencintai mereka. Apalagi aku yang hingga saat ini sangat bergantung pada mereka. Belum cukup berbakti. Belum bisa membalas budi. Lebih sering menerima daripada memberi.

Teringat pesan dari Ibu,


“Kalau cari suami, cari yang soleh, kerjanya mapan dan nggak hanya sayang sama kamu, tapi juga keluargamu. Ya Bapak, Ibu, Diyan. Begitu juga kalau kamu udah nikah. Jangan hanya sayang suamimu. Tapi juga sayang sama mertuamu dan keluarganya.”


Juga teringat tentang acara “Jika aku menjadi…” yang tanyang di Trans 7. Bagaimana mereka yang sudah menjadi kakek atau nenek tetap bekerja keras di masa tuanya. Sedangkan anak-anaknya merantau kerja atau telah berkeluarga dan tidak pernah mengunjungi mereka.

Miris melihatnya… dan takut!  Takut jika aku menjadi anak-anak itu, yang tidak pernah lagi menjenguk orang tuanya yang renta. Takut jika aku mulai mengabaikan mereka. Takut jika aku berpaling dari mereka. Sangat takut..

Aku memohon pada-Nya, agar tetap melembutkan hati ini. Memohon tetap meninggalkan rasa belas kasih, sayang, cinta dan kepedulian di hati ini untuk mereka berdua. Memohon agar tidak menjadikanku anak yang durhaka. Memohon agar saat masa itu tiba, mereka tidak merasa seorang diri dan merasa memiliki aku – anaknya – untuk bersandar dan mengisi masa tua bersama. Aamiin ya Allah.

Huaaa… jadi netes terus deh :’(
disudahi saja kalau begitu.


Btw, Diyan udah pulang sekarang!! Yuk,serbuuu oleh-olehnya~~

:’)

Thursday, April 18, 2013

Finally, after waiting for 7 years.. #part 3


Pagi itu sangat cerah ketika akhirnya benar-benar merasakan bahwa.. “Hei, aku lagi ada di kampung lho”. Semua hal yang di sekitar menjadi sangat menarik untuk dilihat.

Atap rumah, pintu, lampu teplok, sarang laba-laba, bunga turi, jalan tapak berbatu, kayu bakar, kandang kambing, pemandian umum, hamparan sawah, aroma tanah, angin semilir, topi capung, cangkul, suara tegur sapa…

Tidak ada yang berubah. Persis sama seperti 7 tahun yang lalu. Bahkan tetap sama ketika kecil aku tinggal disini.

Hari-hari selama disana diisi dengan hal yang biasa. Walau sebenarnya aku ingin melakukan ini dan itu. Namun rasanya itu perlu sesi tersendiri jika ternyata disana aku hanya sibuk diam menikmati suasana yang ada sembari jadi fotografer amatir memotret apa saja yang dirasa menarik. Jika hari ini aku ada di desa Pomahan, berarti hari berikutnya aku ada di desa Gesing. Begitu seterusnya. Well, meski sebenarnya lebih sering di desa Pomahan. Alasannya? Karena Ibu nggak mau aku ajak kesana. Masih kangen sama Mbo’e katanya. Memang nggak bisa sendiri? Bisa siih. Cuma rada gimana gitu. Merasa “asing” jika sendirian meski itu ke rumah mbah.

Nah, kali ini aku pengen menceritakan tentang keadaan dua desa tersebut. Suasana di antara keduanya. Meski secara fisik sama, tapi secara abstrak berbeda. Haha.. apa coba. Langsung aja deh. Hem.. tentang desa Gesing dulu ya..

Rumah Mbah dan Bude Rah letaknya di pinggir jalan. Jalannya hanya mampu di lewati oleh satu mobil. Di seberang jalan sudah merupakan hamparan sawah terasering.  Tahu terasering kan? Itu lho, sawah yang berundak-undak dari atas ke bawah.



Diyan lagi salaman sama tetangga yang masih tergolong saudara, Bude Rah lagi nyuapi keponakan dan Pakde lagi benerin umbul-umbul yang rusak karena angin (setiap perayaan Hari Raya, setiap rumah memasang umul-umbul)













Dari segi angin, letak rumahnya sangat strategis, yaitu di lereng gunung tanpa pohon-pohon di depannya yang menghalangi angin datang. Alhasil, subhanallah.. anginnya kenceng banget euy. Kayak angin ribut. Apalagi kalau malam hari. Angin dan udara dingin sukses membuat badan menggigil dan tidak ada yang berani keluar rumah.

Tapi yang aku suka dari rumah Mbah ini adalah view nya yang bener-bener wah banget. Kalau di sana, aku jamin siapa pun rela hanya duduk di teras sambil minum kopi atau hanya duduk diam menikmati angin semilir dan hamparan sawah yang sangaat luas sepanjang mata memandang. Nggak percaya? Yuuk lihat ini...



pemandangan dari seberang kanan teras rumah Mbah










pemandangan dari sebelah kiri teras rumah Mbah













Hmm, sebenernya sebaik-baiknya lensa adalah lensa mata sendiri. Foto-foto ini nggak cukup mendiskripsikan gimana indah sebenarnnya keadaan disana. Tapi cukuplah~~ untuk nice to know :)

Jalan yang seperti kita lihat ini dulunya bukan dari aspal. Baru beberapa tahun ini dilapisin aspal. Dulunya masih berupa pecahan batu-batu kali yang agak tajam. Itu sebabnya, orang-orang disana, terutama yang sudah sepuh senang berjalan-jalan di atasnya tanpa alas kaki. Tujuannya ya sebagai terapi pijat alami.




































Jika rumah-rumah di Jakarta selokannya kecil, disini selokannya besar dan dalam. Aliran airnya juga cukup deras sehingga juga digunakan untuk irigasi sawah. Oleh karena itu, warga menyebutnya ini adalah kali kecil. Sayang, beberapa waktu ini musim kemarau sangat panjang sehingga aliran airnya tidak deras. Bahkan di beberapa tempat, kali kecilnya benar-benar kering.






Usaha Pakde dan Bude adalah warung pecel. Meski warungnya sederhana, alhamdulillah laris pembeli. Pecelnya memang sangat enak, terutama sambel kacangnya. Ini yang bikin aku selalu ingin berkunjung kesana. Pokoknya nggak ada duanya deh. Apalagi satu porsi dijual dengan harga yan terbilang cukup murah. Anyway, kalian tahu tidak cara membuat pecel? Yuk mariii dilihat dulu..




pertama, beli sayur pecelnya dulu.
biasanya jika tidak beli di pasar, Bude beli pada penjual sayur keliling.





rasa tempe yang dibuat dengan bungkusan daun jati lebih enak dibanding tempe bungkusan daun pisang atau plastik. Ibu pernah cerita, ketika masih kecil sebelum berangkat sekolah selalu kebagian tugas menunggu pengumpul daun jati lewat. karena dulu neneknya Ibu juga produksi tempe.





bungkusan capar - semacam toge yang baru tumbuh tetapi berwarna kuning dan lebih besar





kedua, sayurnya dipotekin atau dipotong-potong, dicuci lalu direbus










ketiga, membuat sambel kacang





terakhir, siap disajikan :)







Bude dan Pakde bisa dibilang cukup atau bahkan sangat sayang pada kami (red- aku dan Diyan). Tiada hentinya menyuguhkan makanan atau cemilan secara bergilir. Memaksa kami untuk mencobanya satu-satu. Jika yang disuguhkan itu belum juga dicicipi, mereka tidak akan meninggalkan kami sendirian. Kata-kata "Iya Pakde, Bude..Luthfi masih kenyang." atau "Iya Pakde, Bude, nanti saja. Nanti Luthfi makan." sudah tidak mempan. Sampai perlu berkali-kali mengatakannya dengan senyum paling manis untuk bisa meyakinkan mereka bahwa aku sudah kenyang. Hahaa, sempet terpikir bahwa mungkin mereka beranggapan mumpung masih disini, saatnya aku dan Diyan perbaikan gizi.

"Fiii, Bude ambilin makan ya. Belum nambah kan tadi makannya. Mau emping ngga?"
"Fiii, mau kopi nggak? Bude buatin ya. Atau mau teh? Kamu mau jajan ngga? Ayuk, jajan dulu." 








kopi hasil tumbukan Pakde, ampas bijinya pun masih sangat kasar



Bicara masalah makanan, jadi keingetan dapur. Dapur-dapur yang ada di kampung berbeda dengan yang di Jakarta. Tidak berlantai keramik dan masih menggunakan tungku dan kayu bakar untuk memasak. Hanya rumah yang akhir-akhir ini baru dibangun atau telah direnovasi sehingga dimodifikasi sebagian keramik, sebagian tanah atau peluran semen kasar. Karena itu, sandal adalah kebutuhan utama disana. Tidak hanya dipakai keluar rumah, tapi juga dipakai di dapur.













meski ada kompor gas, tungku kayu bakar tetap digunakan



Ketika kami disana, banyak orang yang mengaku-ngaku sebagai Mbah kami. Kenal wajah pun tidak, apalagi nama. Setiap orang sepuh yang lewat depan rumah Bude atau sekedar mampir sebentar untuk membeli pecel, akan dikenalkan oleh Bude atau Pakde sebagai Mbah kami.

“Diyaan, Mba Lupiii. Ini lhoo Mbah-mu? Masih inget ga?”
“Diyaaan, Mba Lupiiii. Sini bentar. Salim sama Mbah.”

Kami hanya salim dan memberikan senyum termanis. Ketika mereka sudah pergi, segera kami bertanya ke Pakde Bude, “Itu Mbah yang dari mana, Bude?” atau “Itu Mbah yang mana lagi, Pakde?” atau “Tadi itu siapa, Bude?” atau “Kok, Mbah kita banyak banget?” dan lain-lain.

Wajar sebenarnya jika Mbah kami banyak dan tidak bisa mengenali semuanya. Saudara dari Mbah asli pun adalah Mbah kami juga. Saudara dari orang tuanya Mbah asli pun adalah Mbah kami juga. Ditambah silsilah keturunan masing-masingnya juga akan menjadi Mbah kami. Tidak hanya itu, siklus pernikahan mereka adalah satu desa. Sehingga, Mbah yang hanya sekedar tetangga tetapi karena ada tali pernikakan dari salah satu kerabat jauhnya dengan salah satu kerabat kami, maka bisa menjadi Mbah kami juga. Heeeh, susah menjelaskan. Kesimpulannya, satu desa Gesing kurang lebih semuanya adalah saudara kami. Haha.

Tapi kamu tahu tidak, masih ada warga disana yang menggunakan pemandian umum untuk mandi. Pemandian umum ini tidak seperti pemandian air panas yang sering kita dengar. Tapi benar-benar tempat mandi untuk umum. Bentuknya sederhana, bangunan kotak tanpa atap yang bersekat tembok untuk perempuan dan laki-laki. Lantainya dari batu kali berlumut yang disana sini terdapat celah tempat kepiting-kepiting bersembunyi. Kolamnya pun sederhana, dengan banyak lumut di setiap dindingnya dan airnya.. berasal dari air hujan. Dinginnya luar biasa. Tapi sangat segar.











Dulu saat masih di sekolah dasar, setiap kali berkunjung ke rumah Mbah, aku mandi disana. Ramai-ramai bareng warga yang lain, terutama mereka yang sudah sepuh. Perlu ekstra hati-hati terhadap lumut yang sangaaaat licin. Apalagi jika ternyata lumut yang di kolam air juga sedang banyak-banyaknya, kami perlu menyaringnya dulu pakai saringan santan, haha. Tapi sekarang sudah tidak lagi. Hanya beberapa orang yang masih pergi kesana. Bude sudah membuat bilik kamar mandi dengan memasang pompa yang berasal dari kolam tersebut. Tapi tetap tidak ada WC. Jadi jika ingin BAB, kami numpang di tempat kerabat samping rumah atau pergi ke kali besar di bawah sawah terasering. Hehe.

Lanjut ya~

Sore itu rasanya sayang jika tidak mengabadikan potret diri berlatar pemandangan yang cukup indah.. alias narsis #hehe. Selepas mandi, kita jalan-jalan di sekitar rumah Mbah. Cukup banyak yang kami potret. Tapi kayaknya lebih sering pemandangan dan Diyan sebagai objeknya.



Diyan
























Akhirnya senja datang. Terlihat dari jauh kakek tua membawa cangkul pulang dari sawah. Si Mbah. Itu Mbah – yang baru pulang bekerja. Umur Mbah sudah 80 tahun ke atas. Tapi tenaganya masih kuat seperti anak muda. Tidak kenal lelah atau istirahat. Anak-anaknya sudah mengingatkan agar Mbah “pensiun” dari bertani dan menghabiskan masa tuanya untuk santai di rumah. Tapi keras kepala. Marah jika dinasehati seperti itu. Alasannya adalah badan terasa sakit jika tidak ke sawah. Pegel-pegel. Maunya gerak kesana kemari. Mungkin.. itu cara Mbah mengisi kesendiriannya di hari tua. Mencari kesibukan untuk menghibur diri yang sepi. Ya… pasti terasa sepi. Istri Mbah sudah lama meninggal karena sakit. Aku dan Diyan pun belum pernah melihatnya. Ya.. pasti sepi. Sehingga menyibukkan diri di sawah. Setidaknya, ada teman seumuran untuk diajak ngobrol di sela-sela lelah saat mencangkul.



one of some my favorite pictures



Biasanya Mbah pergi ke sawah mulai dari jam 7 atau 8 pagi. Pulang menjelang siang untuk makan dan kipas-kipas badan. Ketika keringat sudah kering, beliau pergi lagi hingga senja. Tidak banyak yang Mbah bawa, hanya cangkul dan topi serta tanpa alas kaki. Selalu ada saja yang dikerjakan. Entah mencangkul tanah, menanam padi muda, membuat irigasi atau hanya melihat dan menjaga padi-padi yang belum kuning.












Alhamdulillah, masa panen padi datang beberapa waktu yang lalu. Para petani yang lain bersyukur karena berhasil melalui masa paceklik beberapa bulan yang lalu, yang membuat banyak petani gagal panen, termasuk Mbah. Panen kali ini pun, hasil yang Mbah dapat tidak banyak. Hanya beberapa karung beras. Tapi hal ini dirasa jauh lebih baik. Hmm, mungkin kalau mudik kesini lebih awal, kami masih bisa melihat hamparan padi menguning, yang tentunya jauh lebih indah dari sekarang. Yaah, semoga lain waktu bisa kesini lagi, saat musim panen.


























Oh ya, ada satu hal lagi yang menarik disini. Arisan. Bukan sembarang arisan. Pesertanya adalah mereka yang memiliki sawah atau seorang buruh sawah. Diadakannya setiap kali musim panen tiba. Hasil arisannya dapat berupa karungan beras atau hewan ternak. Wah, tidak bisa dibanyangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan sampai semuanya kebagian hasil kocokan. Jika musim panen adalah 3 sampai 4 kali pertahun dan pesertanya hampir 40 orang.. bisa sampai bertahun-tahun arisannya baru bisa selesai! Ckckck.






Oke, lanjut lagi ~


Malam itu kami berbuka puasa dengan es degan. Bagi mereka yang berpuasa, rasanya pasti nikmat. Tapi bagi aku dan Diyan yang sejak awal kedatangan kesini sedang berhalangan, rasanya biasa saja. Karena perut kami sudah kenyang setelah “dicekoki” ini dan itu oleh Pakde dan Bude ^.^”







Buah kelapanya tidak beli. Hanya perlu sedikit pengorbanan untuk manjat ke pohon dan petik buanya berapan pun yang disuka. Tapi kali itu, sepertinya salah petik. Kelapanya sudah agak tua. Cocoknya ini diparut untuk bikin santan.






Seperti yang sudah dikatakan, saat malam udaranya sangat dingin. Angin di luar rumah sangat ribut. Padahal jarum jam masih di angka 7. Seharusnya, dingin-dingin begini enaknya tidur. Tapi kasurnya pun dingin. Bantalnya juga. Sepertinya butuh perjuangan walau hanya untuk tidur. Ya sudah, tidur dulu ya semuaa~.



selalu ada yang sarungan saat malam datang



Krik krik krik #bunyi jangkrik di luar rumah
Tek tek tek #bunyi jarum jam
Wuuuuush #bunyi angin ribut


Oke, jam berapa sekarang? Jam 7.05 malam. Lama sekali jamnya berputar. Susah memaksa mata yang biasanya tutup jam 12 malam untuk beradaptasi tutup jam 7 malam. Terlalu jauh jaraknya. Jadi ngapain sekarang?

Oh ya, buka laptop. Browsing….


Modemnya? Yaah, modemnya! Oalah, ada-ada saja. Sinyal modemnya ngga ada disini. Jadi tujuannya apa iniiii.. bawa laptop jauh-jauh dari Jakarta dan hanya tergeletak di meja. Tidak terpikirkan apa, Fi.. sebelumnya? :’(






Alih-alih tidak bisa pakai laptop, aku nemuin foto nikah Bapak dan Ibu.  Well, aku akui, pas muda Bapak ganteng. Ibu juga cantik. Kalau dibandingkan sekarang…









:)





:*



Malam itu rasanya sangat panjang. Acara TV tidak ada yang menarik. Ingin ngobrol pun malas karena menggigil kedinginan (klo ngomong, keluar asap lho kayak di tipi-tipi, haha). Akhirnya berbaring saja di kasur dengan tumpukan selimut di badan. Sambil mata terpejam, membayangkan apa yang akan dilakukan esok. Malam ini menyilang satu hari lagi yang terlewat. Waktunya tidak banyak lagi...

Hoaam, sudah ngantuk @.@
Disudahi dulu ya kawan. Kita lanjutkan lagi nanti.
Tentang desa Pomahan, ngabuburit ke telaga ngebel, mengunjungi rumah di kota Ponorogo, dan lain-lain..

:)



Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...